Jumat, 13 Juli 2012

Membangun Jaringan Usaha Koperasi Melalui Pelibatan Kakek-kakek, Nenek-nenek dan Atau Anak Muda yang Aneh, Mungkinkah?

disampaikan pada acara “lokakarya dalam rangka HUT Koperasi”, dilaksanakan oleh Dekopinda Kab.Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia, Tanggal 14 July 2012



A. Pembuka : Menguak Sejarah Singkat Kelahiran Koperasi di Dunia
Suatu ketika, beberapa orang buruh pabrik berkumpual dan membicarakan tentang bagaimana menciptakan kehidupan yang lebih berpengharapan. Gaji kecil dan kebijakan pemilik perusahaan (majikan) yang cenderung egois dan tak berperikemanusiaan, membuat kebutuhan hidup mereka kian terancam. Mereka merasa tak punya masa depan sama sekali. ”Persamaan nasib” telah melahirkan semangat untuk merubah keadaan. Menghujat majikan bukan pilihan yang menarik, karena bagaimanapun juga sang majikan telah memberi mereka kehidupan walau masih jauh dari harapan. Berbuat hal yang sama seperti majikan (membangun pabrik) juga sebuak kemustahilan atau mimpi yang terlalu jauh. Akhirnya, mereka berkomitmen menyatukan segala potensi dan sumber daya yang ada pada masing-masing orang. Karya pertama dari penyatuan potensi itu berwujud “toko” yang menyediakan segala kebutuhan mereka. Semua anggotanya berkomitmen untuk membelanjakan kebutuhan di toko itu. Dalam waktu singkat, toko tersebut menjadi besar dan bahkan bisa menghasilkan akumulasi margin yang mereka nikmati bersama. Akhirnya mereka menyadari bahwa kebersamaan itu mendatangkan manfaat yang luar biasa. Disatu sisi mereka tetap bisa bekerja menjadi buruh di pabrik tersebut dan mendapatkan gaji tetap, disisi lain mereka bisa menciptakan efisiensi melalui toko yang mereka miliki bersama-sama. Dalam perjalanannya, toko itu kemudian menjadi besar dan menjadi pembicaraan banyak orang. Kemudian mereka nama kan”kebersamaan” itu “koperasi (co-operative)”.

Cerita singkat diatas di atas adalah cikal bakal lahirnya koperasi pertama yang kemudian menginspirasi kelahiran koperasi-koperasi lain di dunia ini, termasuk di Indonesia . Berkaca dari sejarah tersebut dan kemudian membandingkan dengan sejarah terbentuknya koperasi –koperasi di Indonesia, tentu terdapat perbedaan situasi. Namun demikian, ada satu kesamaan yaitu spirit menyemangati kelahirannya yaitu ”kebersamaan”. Satu hal yang menjadi catatan penting bahwa kondisi insan-insan yang membentuk koperasi masa kini mayoritas jauh lebih baik dari pada nasib buruh-buruh pabrik itu. 

Andai kemudian semangat membangun kebersamaan saat ini seperti semangat yang melekat pada buruh dalam membentuk koperasi pertama di dunia itu, sesungguhnya koperasi di Indonesia jauh lebih berpeluang membangun dan mengembangkan aktivitas apapun . Bayangkan, seandainya bila semua anggota koperasi membelanjakan kebutuhannya di toko milik koperasi, maka dipastikan harga-harga di toko akan sama dengan supermarket sebab kuantitas pembelian barang dari supplier berjumlah sama atau bahkan lebih dibanding yang dibeli oleh supermarket. Andai semua anggota berkomitmen menekan atau mengendalikan naluri konsumsinya dan menabungkan sisanya di koperasi, maka akan terkumpul sejumlah uang yang bisa dimanfatkan untuk untuk memenuhi kebutuhan pinjaman sebagian anggota yang sedang membutuhkan. Bahkan, koperasi tak akan kesulitan modal bila ingin mengembangkan aktivitas-aktivitas baru dalam rangka menyediakan segala kebutuhan anggotanya. 

B. Koperasi di Tengah Himpitan Individualisme Menggejala
Dalam konteks sejarah “kebersamaan”, sesungguhnya rakyat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran sangat berpeluang mengembangkan koperasi. Namun demikian, fakta lapangan menunjukkan masih jarang dan sulit mendapatkan koperasi yang berkembang dan berdaya guna nyata bagi anggota dan masyarakat. Pertumbuhan koperasi masih dalam wilayah pertumbuhan jumlah (kuantitatif) dan masih jauh dari pertumbuhan kualitas. Apa yang salah sesunggguhnya???.

Satu hal yang menjadi catatan penting bahwa mengembangkan koperasi identik dengan mengembangkan perilaku kolektif didalam mencapai tujuan-tujuan bersama. Disinilah letak persoalan bermula dimana realitas masyarakat kekinian telah teracuni apa yang disebut dengan virus “individualisme” yang bermula dari tumbuh kembangbangnya faham hedonisme bercirikan budaya konsumerisme. Perasaan bangga bila lebih unggul dibanding lainnya (semangat kompetisi yang menyesatkan), keberhasilan yang di ukur dari kemampuan mengumpulkan harta, menipisnya kepedulian terhadap sesama, menipisnya kemauan untuk saling mencerdaskan (saling asah,saling asuh,salah asih), menipisnya rasa malu bertindak menyimpang , gampangnya masyarakat kelas bawah tersulut isu, merupakan sederet fakta yang menegaskan virus individualisme kian akud menggerogoti karakter asli masyarakat Indonesia. Nilai-nilai “kebersamaan dan kesetiakawanan” telah mengalami kemerosoton tajam. Dalam peta yang demikian, koperasi dipaksa berhadapan langsung (face to face) dengan realitas karakter mayoritas masyarakat yang jelas-jelas berseberangan dengan spirit dan nilai-nilai yang diperjuangkan koperasi. 

Dalam perspektif makro, menjadi menarik untuk menemukan muasal masuknya virus individualisme sehingga lebih mudah membentuk pertahanan (blokade) atau semacam perlawanan terhadap penyebaran virus dan sekaligus mempermudah perumusan anti virus yang terlanjut merasuk. Agenda ini menjadi penting guna memuluskan masuknya faham koperasi dalam mindset masyarakat. Pada saat koperasi sudah menjadi “life style”, pada saat yang sama pembangunan masyarakat dalam arti luas otomatis menjadi lebih mudah. Pada titik inilah sesungguhnya titik temu antara tujuan pembangunan nasional dengan pembangunan koperasi karena hahekat obyek yang dibangun adalah “sama” yaitu masyarakat. Oleh karena itu, berbicara koperasi sesungguhnya tidak terbatas membicarakan ekonomi saja, tetapi juga menyangkut pembentukan karakter sosial dan budaya dari masyarakat. 

C. Menilik Sekilas Realitas Mayoritas Koperasi dan Menelusur “Core Problem”.
Secara agregat, koperasi di negeri tercinta ini belum mampu memerankan diri sebagai “soko guru perekonomian negara “ sebagaimana di cita-citakan oleh bapak koperasi (cq. Bung Hatta). Namun demikian, tak bijak mencari siapa yang salah, tetapi lebih baik mencari musabab yang menginspirasi penyusuan formulasi solusi komprehensif demi terbangunnya koperasi yang lebih berpengharapan di masa depan.

Berdasarkan pemangatan dan pengalaman empiris, “core problem” dari ke-belum majuan dan ke-belum berkembangan koperasi adalah karena koperasi telah meninggalkan Jati diri nya dan tergiur ber-praktek layaknya non koperasi (PT, UD dan lain sebagainya). Koperasi menjeburkan diri pada logika-logika bisnis ansih yang diwarnai semangat saling mengalahkan (baca: persaingan) demi perolehan keuntungan yang sebesar-besarnya. Nafas kebersamaan, kegotong royongan, saling tolong menolong, kesetiakawanan, kian hari kian tidak terlihat dalam proses transaksi koperasi. Bahkan koperasi semakin asik dengan semangat pertumbuhan modal tanpa peduli apakah harus meng-eksploitasi potensi anggota. Anggota sebagai pemilik, penentu kebijakan dan control operasional hampir tidak berfungsi lagi dan anggota diposisikan sebagai market (pangsa pasar). Dalam hal ini, hubungan koperasi dengan anggotanya menjadi sebatas hubungan transaksional layaknya antara konsumen dan produsen (baca: penjual dan pembeli) di perusahaan-perusahaan non koperasi. Koperasi hampir tak lagi tertarik memobilisasi kebersamaan sebagai modal terbesar dalam menghasilkan karya-karya multi makna. Koperasi tak berfikir lagi menpersonifikasikan diri sebagai “sosial movement” dan penjaga gawang budaya. Koperasi telah difahami hanya dalam konteks ekonomi dan menjalankannya dengan prinsip-prinsip ekonomi ansih. Istilah SHU (Sisa Hasil Usaha) sudah tak memiliki nilai beda signifikan dengan istilah “LABA” pada badan usaha non koperasi. Bahkan, koperasi telah terjebak menjadi “agen strategis” yang mempersubur produk-produk kapitalis. Koperasi tak berfungsi lagi sebagai media edukasi yang mewarnai pola hidup anggotanya. Kepentingan-kepentingan pribadi yang dikerjasamakan tak lebih hanya aktivitas transaksional yang jauh dari spirit kebersamaa dan terjebak fokus pada pemenuhan kebutuhan. Koperasi tak tertarik lagi mengambil tanggungjawab untuk mengajarkan kepada anggotanya bagaimana menggunakan uang dengan bijak (use money wisely). Koperasi pun tak berfungsi lagi sebagai edukator bagaimana anggota mensikapi pola hidup kekinian dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip kesederhanaan. Bahkan, tanpa disadari koperasi telah menjadi “agen sempurna” dalam menyuburkan spirit hedonisme yang berujung tumbuhnya pola hidup individualis.

Ironisnya, di satu sisi anggota selalu merasa tidak puas dengan kinerja koperasi nya dan berujung pada pendeskriditan pengurus dan pengawas, di sisi lain secara organisasi dan usaha koperasi tak kunjung lebih baik di banding dengan pelaku-pelaku ekonomi non koperasi. 

Koperasi harus kembali pada Jati Dirinya, sehingga layak berharap menjadi sokoguru ekonomi bangsa. 


D. Telisik Masalah Koperasi Secara Mikro.
Sub Bahasan sebelumnya menegaskan bahwa core problem (masalah utama) kebelum berkembangan koperasi adalah karena koperasi meninggalkan jati diri nya dan berpraktek sebagaimana badan usaha lainnya. Sementara itu, secara mikro persoalan koperasi sesungguhnya terletak pada orang-orangnya, sebab koperasi merupakan kumpulan orang. Jadi, kalau ada yang mengatakan kebelumberkembangan koperasi karena kurangnya modal sesungguhnya kurang tepat. Terbukti, ketika koperasi di beri bantuan lewat ragam program pemerintah ternyata tak bisa membuat koperasi itu melakukan lompatan kemajuan. Hal ini mempertegas ke-belum majuan bermula dari orang-orang yang berkumpul di dalamnya.
Secara singkat, ada 7 (tujuh) masalah utama yang melekat pada orang-orang koperasi, yaitu; (i) lemahnya pemahaman tentang koperasi; (ii) tidak tegasnya tujuan berkoperasi; (iii) belum adanya distribusi peran diantara unsur organisasi dalam mencapai tujuan; (iv) belum adanya distribusi hasil yang memotivasi partisipasi; (v) lemahnya jiwa kewirausahaan; (vi) lemahnya managerial skill dan; (viii) lemahnya kepemimpinan (leadersip).
Oleh kaarena itu, kalau koperasi ingin mengakar dan besar, 7 (tujuh) masalah dasar tersebut harus di selesaikan secara bertahap dan berkesinambungan.


E. Edukasi Sebagai Kunci Membangun Koperasi Benar
Dalam konsep jati diri koperasi, salah satu prinsipnya berbunyi pendidikan. Lewat pendidikan akan terbentuk pemahaman yang tepat tentang apa, mengapa dan bagaimana seharusnya berkoperasi. Lewat pemahaman, akan lahir tindakan berpihak dan advokasi (pembelaan) terhadap koperasi. Lewat akumulasi tindakan berpihak akan teridentifikasi ragam potensi yang bisa dikelola menjadi aktivitas produktif koperasi berbasis kebutuhan bersama . Pada titik inilah koperasi bisa di defenisikan sebagai market terlokalisir (located market). Pada iklim kebersamaan (kolektivitas) yang senantiasa terbangun dan terjaga, keberlangsungan dan masa depan organisasi dan usaha koperasi akan lebih terjamin.
Semua berawal dari pendidikan, sebab pendidikan adalah pintu memasuki perubahan. Oleh karena itu, idealnya koperasi mendidik calon anggota sebelum bergabung menjadi anggota. Dengan demikian, setiap anggota akan memahami bahwa ber-koperasi sesungguhnya ikut mengambil tanggungjawab secara sadar untuk membesarkan organisasi dan perusahaan. Anggota akan menyadari bahwa setiap partisipasinya berpengaruh besar pada ketercapaian apa-apa yang menjadi cita-cita bersama. Disamping itu, anggota juga akan mengambil inisiatif untuk saling menyemangati satu sama lain demi kesuksesan koperasi yang mereka miliki dan kendalikan bersama secara demokratis

Pada akhirnya, koperasi yang di huni oleh anggota yang memiliki kesadaran dan memahami apa, mengapa dan bagaimana seharusnya berkoperasi akan mewujud menjadi koperasi yang mengakar. Kemengakaran selanjutnya akan berimbas pada kebesaran koperasi itu sendiri. Selanjutnya akumulasi koperasi yang “mengakar dan besar” akan mampu memberikan kontribus dalam pembentukan tatanan kehidupan masyarakat yang lebih bermartabat, khususnya dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya.
Untuk itu, metodologi pendidikan koperasi menjadi kunci efektif dalam skenario pembangunan koperasi yang genuine (sesuai dengan konsepsinya). Metodologi yang diterapkan harus memperhatikan obyek yang akan di didik, sehingga tingkat efektivitasnya lebih terjamin. Di samping itu, ketersediaan edukator juga menjadi bagian penting terselenggaranya proses pendidikan yang efektif. 

Hal ini memang bukan perkara mudah, tetapi kebaikan dan kemuliaan nilai-nilai yang diperjuangkan dan peluang kontribusi koperasi terhadap pembangunan “kehidupan yang lebih baik”, menjadikan hal ini pantas di utamakan. Semangat koperasi sepatutnya terus di kobarkan lewat keseimbangan antara perkataan dan perbuatan, sehingga akan mendatangkan kepercayaan dan sekaligus semangat masyarakat untuk menjadi bagian dari keluarga besar koerasi.


F. Menggagas Kerja Sama Antar Koperasi
Hakekat koperasi adalah kerjasama (co-operative) dari orang per orang yang memiliki keyakinan dan komitmen untuk hidup bersama, khususnya dalam memenuhi aspirasi dan kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya. Kesamaan persepsi, kepercayaan satu sama lain dan spirit kolektivitas diantara mereka selanjutnya di mobilisasi ke arah keterlahiran ragam aktivitas yang berujung pada terwujudnya “mimpi kolektif” secara bertahap dan berkesinambungan. Dengan kata lain, keterlahiran aktivitas dan kesejahteraan hanyalah “imbas” dari kualitas kebersamaan yang terbangun.
Sebagai ideologi yang menjunjung tinggi “kerjasama”, maka roh pembangunan koperasi identik dengan upaya mempertinggi nilai kerjasama itu sendiri. Demikian halnya ketika antar koperasi membangun sebuah kerjasama, sesungguhnya koperasi-koperasi tersebut tidak sedang belajar tentang membangun kerjasama tetapi hanya memperluas kerja sama itu sendiri. 

Dalam dataran praktis, ada 2 (dua) hal minimal yang perlu diperhatikan dalam membangun kerja sama produktif , yaitu :
1. “Trust atau kepercayaan”. Kepercayaan adalah modal terpenting dalam membangun kerja sama yang nyaman dan langgeng. Kepercayaan tidak bisa dipaksakan dan tidak lahir dalam waktu singkat, tetapi merupakan akumulasi dari track record (rekam jejak) kebaikan dan konsistensi. Oleh karena itu, koperasi harus membangun mesin reputasi dalam bentuk karya-karya nyata berbasis kebersamaan. Satu hal yang menjadi catatan bahwa reputasi tidak bisa dibentuk lewat manipulasi persepsi, sebab waktu akan menguji kebenaran reputasi itu sendiri.
2. Kebermanfaatan. Dalam perspektif produktivitas, kemitraan yang terbangun di antara koperasi men-syaratkan adanya perekat berbentuk peningkatan nilai kebermanfaatan yang selanjautnya kan menjadi sumber semangat dan sekaligus energi dalam mensukseskan hal-hal yang dikerjasamakan.


G. Menilik Ragam Potensi Kemitraan Antar Koperasi
Sebagai organisasi berbasis kumpulan orang yang berkomitmen hidup bersama, saling percaya dan keinginan yang sama kuat untuk saling men-sejahterakan, merupakan modal penting dalam membentuk kerjasama di banyak. Kerja sama yang dibangun bisa dimaksudkan untukmemenuhi ragam kebutuhan maupun berkaitan dengan optimalisasi bakat/talenta yang melekat pada pribadi-pribadi anggota di masing-masing koperasi. 

Sebagai stimulan, berikut ini dipaparkan beberapa gagasan yang mungkin dikerjasamakan antar koperasi :
1. Join Education.
Sebagaimana di jelaskan di alinea sebelumnya tentang pentingnya pendidikan di koperasi, maka penyelenggarakan pendidikan koperasi yang berkualitas dan tepat sasaran (baca: berimplikasi nyata bagi percepatan perkembangan koperasi) memang bisa dilakukan bersama-sama. Koperasi-koperasi bisa membuat education centre (pusat pendidikan) yang fokus mendidik anggota, pengurus dan pengawas koperasi.
2. Join Business
Dalam mewujudkan kemampuan diri memenuhi aspirasi ekonomi, sosial dan budaya, koperasi perlu menyelenggarakan aktivitas usaha, baik berbasis kebutuhan anggota, potensi/bakat yang melekat pada anggota dan atau peluang yang mungkin bisa di maksimalkan dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi dan kelembagaan.
Bicara operasionalisasi usaha koperasi, tentu koperasi tidak bisa melepaskan diri dari prinsi-prinsip umum walau di beberapa hal terdapat kekhususan yang merupakan pembeda koperasi dibanding dengan usaha lainnya. Oleh karena itu, usaha koperasi juga sangat memperhatikan efisiensi, efektivitas dan produktivitas dalam arti luas. Atas dasar itu, koperasi perlu mengembangkan ragam strategi yang mengarah pada tujuan yang sama, yaitu “perluasan kebermanfaatan berkoperasi bagi segenap stake holder nya”.
Salah satu strategi yang bisa diambil adalah mengembangkan kerjasama antar koperasi dengan prinsip saling memperkuat dan memperluas nilai manfaat. Berikut dijelaskan beberapa gagasan kerja sama antar koperasi di bidang usaha yang mungkin bisa di laksanakan:
  • Join Buying (Membeli Bersama). Pada koperasi konsumsi, join buying sangat mungkin dilakukan karena dipastikan lebih efisien melalui pembelian dalam skala yang lebih besar. Harga perolehan yang lebih rendah tentu akan membentuk harga jual yang lebih rendah pula dan hal ini sangat menguntungkan anggota koperasi. Di sisi lain, ketika koperasi juga melayani non anggota, maka range margin yang di dapatkan akan menjadi lebih besar.

  • Join marketing.
Dalam sudut pandang “peta kebutuhan”, koperasi juga merupakan “kumpulan kebutuhan” sejak kelahirannya dan kian meluas seiring dengan pertumbuhan jumlah anggotanya. Artinya, antar koperasi yang memiliki kemampuan untuk memproduksi produk tertentu bisa kerjasama dalam hal pemasarannya dengan koperasi lain yang anggotanya membutuhkan produk tersebut.
  • Join Management
Me-manage usaha koperasi memiliki tingkat keunikan tersendiri. Hal ini mengingat koperasi bukan organisasi bebas nilai, tetapi terikat pada konsepsi “jati diri” yang sekaligus berfungsi sebagai pembeda nyata dibanding bentuk usaha lainnya. Pada titik inilah, koperasi dituntut bisa mengelola ragam usaha dengan baik dan mendasarkan diri pada nilai-nilai koperasi itu sendiri. Jika tidak, koperasi akan terjebak pada praktek non-koperasi sehingga terfokus pada pertumbuhan nilai uang semata. Namun demikian, menghadirkan seorang yang ahli dan faham koperasi mulai dari konsepsi sampai dengan operasionalisasi tidaklah mudah dan jumlahnya pun tidak banyak. Sulitnya mendapatkan para expertis (ahli) di bidang koperasi bermula dari rendahnya budaya apresiasi koperasi terhadap manajemen (baca: pengelola) sehingga hal ini tidak memotivasi sumber daya manusia potensian untuk bergabung dalam manajemen koperasi. Akibatnya, mendapatkan manajemen pelayanan berbasis nilai koperasi tergolong sangat jarang. Mayoritas pelayanan tersaji seadanya dan hampir tak mencerminkan semangat untuk berkembang. Hal ini sangat disayangkan, sebab kondisi ini tidak hanya membuat koperasi secara kelembagaan kurang berkembang, tetapi juga berakibat kurang teroptimalkannya ragam potensi yang melekat pada koperasi tersebut. Akhirnya, kebahagiaan segenap stake holder menjadi bagian dari keluarga koperasi menjadi beritu rendah.
Oleh karena itu, dalam meng-akselerasi pembangunan koperasi secara integratif, perlu dikaji pelibatan para profesional yang benar-benar mumpuni. Dalam hal mendatangkan para profesional tersebut, beberapa koperasi bisa bekerja sama untuk mengangkat profesional menangani koperasi-koperasi yang secara roh dan tata pengelolaan memiliki kesamaan pola. Inilah yang dimaksud dengan join management. Join management tidak hanya membuat peluang koperasi lebih berkembang, tetapi juga menjadi lebih efeisien tanpa mengurangi efektivitas dari pembangunan koperasi-koperasi itu sendiri.
  • Join Teknologi
Di kekinian zaman, teknologi banyak mempengaruhi tata kelola usaha dan juga pelayanan. Kecanggihan teknologi terbukti bisa menggerus waktu, jarak, meningkatkan validitas, mempengaruhi budaya dan bahkan citra organisasi dan perusahaan. Namun demikian, pelibatan teknologi dalam tata kelola organisasi dan usaha memerlukan biaya yang tidak sedikit. Untuk itu, kerja sama antar koperasi di bidang teknologi juga berpotensi menciptakan efisiensi tanpa mengurangi substansi teknologi dalam menunjang informasi, pelayanan,pencitraan, pembangunan trust dan lain sebagainya.
  • Interlanding
Sampai saat ini, koperasi belum punya lembaga penjamin likuiditas sehingga pola pelayanan masih mengandalkan kondisi internal masing-masing koperasi. Sebenarnya, koperasi juga bisa membentuk kerjasama dengan koperasi lainnya. Sebab, pada satu waktu sebuah koperasi mengalami over likuid dan di koperasi yang lain sedang membutuhkan tambahan dana untuk mendukung pelayanan. Ketika terjadi kerja sama interlanding maka hal ini akan sangat membantu perkembangan koperasi masing-masing yang bekerja sama.
  • Join Public Relation. Mayoritas koperasi masih lemah dalam hal pembangunan citra organisasi dan kelembagaan. Ragam aktivitas yang dilakukan tidak terkomunikasikan dengan baik terhadap stake holder koperasi itu sendiri. Akibatnya pesan dari sebuah aktivitas tidak tersosialisasikan atau tidak teredukasikan dengan tepat, sehingga rentetan aktivitas kurang memberi kontribusi optimal bagi pembentukan persepsi dan apresiasi dari pihak-pihak yang di targetkan. Oleh karena itu, Join Public Relation antar koperasi menjadi layak untuk di gagas sebagai bagian dari peningkatan persepsi dan apresiasi segenap stake holder koperasi.

  • Join Investmen (Investasi bersama).
Kalau ditilik dari sudut kebutuhan, sesungguhnya masing-masing anggota dari primer memiliki kesamaan. Akumulasi kesamaan ini bisa di drive menjadi inspirasi keterlahiran “join Investmen” diantara beberapa koperasi dalam hal pembuatan pusat-pusat pemenuhan kebutuhan ekonomi anggota, misalnya : join investmen dalam hal pembangunan supermarket, hotel, rumah makan, pembanguna perumahan dan lain sebagainya yang berorientasi pada pengembangan layanan kebutuhan anggota.
  • Dan lain sebagainya.
Banyak hal lain yang bisa dikerjasamakan antar koperasi sepanjang hal tersebut memperluas kebermanfaatan koperasi bagi segenap stake holdernya dan tidak bertentangan dengan aturan dan undang-undang yang berlaku. 

Dari penjelasan di atas, mengembangkan kerjasama antar koperasi sesungguhnya bukanlah perkara sulit bagi koperasi-koperasi yang sudah mengakar, sebab pada hakekatnya tindakan itu hanyalah memperluas kerjasama dimana koperasi sudah terlatih secara internal. Namun demikian, minimnya kreativitas, kurangnya saling percaya dan rendahnya keterlatihan dalam hal berbagi peran dalam pencapaian maupun distribusi hasil, sering jadi faktor-faktor penghambat terwujudnya kerjasama antara koperasi itu.


H. Keluh Kesah Muasal Gairah
Telusur logika menyimpulkan koperasi layak di operasionalkan. Konsepsi yang memuat nilai-nilai dan prinsip-prinsip sangat rasional dijadikan mesin pencetak kemakmuran ekonomi, sosial dan budaya. Koperasi juga berpeluang menjadi satu kekuatan besar yang bisa mempengaruhi banyak sisi kehidupan masyarakat.
Pengungkapan peta realitas dan masalah yang melingkupi kehidupan koperasi dalam tulisan ini, sesungguhnya bagian dari upaya membentuk kesamaan persepsi dan sekaligus membangun semangat untuk menyusun langkah-langkah. Kalau kemudian faktanya belum berkembang, pada titik itulah sesungguhnya letak medan perjuangan. Bayang keberhasilan nan indah sepatutnya dijadikan sebagai magnet semangat dan sumber inspirasi bagi tertemukannya cara-cara yang lebih efektif bagi keberdayaan koperasi. “Continues improvement” harus dijadikan sebagai budaya dalam mengembangkan setiap gagasan dan mensikapi pencapaian koperasi. 

I. Penghujung : Menggugat Judul Tulisan
Hidup bersama, saling percaya dan saling berbagi bukanlah perkara mudah, kecuali bagi orang yang bisa merubah kata “Aku, dia, mereka dan kamu” menjadi kata “kita”. Sementara itu, mewujudkan kata “kita” dalam arti luas hanya biasa di dilakukan orang-orang yang bijaksana dalam berfikir maupun dalam tindakan. Hal ini sangat di pengaruhi oleh kualitas spiritualitas seseorang. 

Dalam perspektif usia, kebijaksanaan sering didapati pada mereka yang sudah tua (baca: kakek-kakek atau nenek-nenek) dimana mereka telah mengalami asam garam kehidupan. Mereka mulai fokus pada investasi sosial (social investmen) sebagai bagian dari upaya mempertinggi “nilai kebaikan” di pandangan Tuhan. Sementara itu, di kebanyakan kaum muda yang lahir di zaman serba instan banyak terjangkit virus individualisme yang cenderung egois dan bahkan autis dalam tanda kutip. Hal ini sangat berseberangan dengan nilai-nilai kolektivitas (kebersamaan) yang diperjuangkan koperasi. 

Oleh karena itu, tulisan ini sengaja mengambil judul aneh yaitu “membangun koperasi melalui pelibatan Kakek-kakek, Nenek-Nenek Atau Anak Muda Yang Aneh”. Keanehan merupakan bagian dari cara mengajak “kontemplasi berjamaa’ah” tentang hakekat koperasi dengan harapan akan mendatangkan lompatan keyakinan dan sekaligus melahirkan semangat pembuktian.
Akhirnya, semua ini bukan tentang kakek-kakek, nenek-nenek atau anak muda yang aneh, tetapi tentang perlunya membudayakan kebijaksanaan berfikir dan bertindak di keseharian hidup sebagai pra-syarat membangun sebuah koperasi yang tangguh. Semoga berkoperasi tidak hanya meningkatkan kualitas ke “KITA”an segenap lapisan masyarakat , tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertinggi “nilai kebaikan” di pandangan Tuhan. Aminn. Semoga menginspirasi……


Rabu, 27 Juni 2012

musuh terbesar kita ternyata bukan orang lain, tetapi adalah ”diri kita sendiri”.

MENGAPA HARUS SALING MENGALAHKAN..??


Memaknai hidup sebagai pertandingan menyebabkan yang lain difahami sebagai musuh yang harus dikalahkan. Naluri memenangkan, sering pemicu  sedotan energi untuk mengintip kekuatan lawan, dan sisanya memperkuat diri demi satu akhir lebih baik. Apa yang di dapat dari sebuah kemenangan?? Apa yang dirasa oleh sang terkalahkan???.   

Ini tentang ”spirit of fighting”, ini tentang penggandaan gairah untuk kelahiran karya-karya spektakuler, ini tentang gengsi dan harga diri, ini tentang citra diri, ini tentang apresiasi bagi yang tertinggi, ini persoalan hukumuan bagi mereka yang malas berlatih, ini jalan pintas mencari potensi yang layak di orbitkan, ini tentang keinginan menghadirkan orang-orang terbaik dalam  satu komunitas bervisi unggul, ini tentang perulangan sejarah perlombaan pertemuan sel telur dan ovum yang merupakan muasal keterlahiran manusia....semua menjadi pembenar dan memotivasi perulangan tersajinya pertandingan demi pertandingan hidup dalam segala variasi bentuknya. 

Ironisnya, kemenangan tak jarang melahirkan perasaan lebih dan menjadi sumber parcaya diri. Yang menang tertawa lepas saat  air mata dan jerit bathin begitu dalam berlangsung disisinya. Yang kaya juga tak jarang memaknai sebagai pembenar untuk selalu di dengar dan bisa berbuat apa saja. Penguasaan yang satu terhadap lainnya tak terhindari.  Akibatnya, bukan tak jarang kekalahan melahirkan dendam kesumat yang terkuak dalam sikap dan perwajahan yang tak kunjung beraura cerah. Bahkan kekalahan tak jarang menimbulkan kreasi negatif untuk bisa menyemat sebutan lebih baik dari yang lain.

Ini paradigma dunia dan mungkin terlalu naif untuk dipermasalahkan. Ini tentang  pemanjaan ”killing insting” yang diyakini ada pada setiap manusia. Ini tentang dinamika hidup yang diyakini mati bila pertandingan ditiadakan. Ini tentang gairah yang memerlukan saluran pemuasnya. Sisi negatif dari pertandingan diyakini akan lenyap  dengan sendirinya walau pada kenyataannya hanya sedikit yang berhak menyemat kata ”juara” dan sisanya adalah kelompok mayoritas berstatus terkalahkan.

Tetapi pertandingan tetep terselenggara dengan peserta yang hampir sama jumlah pesertanya. Terkadang., di kemenangan yang terulang, banyak sang juara kemudian menyadari bahwa musuh terbesarnya ternyata bukan orang lain, tetapi adalah ”dirinya sendiri”.

Sesungguhnya ada yang terlupa, peserta lomba adalah manusia yang terlahir dengan keunikan dan talentanya masing-masing. Andai mereka di kolaborasikan menjadi  kombinasi akumulasi potensi, tak kan ada lagi yang merasa tersaingi, tak ada lagi yang merasa terkalahkan, tak ada lagi yang merasa terpinggirkan. Naluri membunuh akan berubah menjadi naluri saling asah, saling asih dan saling asuh.  Pada titik itu, manusia telah kembali ke fitrahnya...KAH???




http://www.arsadcorner.com/2012/05/mengapa-harus-saling-mengalahkan.html

Mengatur Uang Ala Mahasiswa


Mengatur Uang Ala Mahasiswa

Mahasiswa terkadang sering merasa kekurangan uang saku yang telah dikirim walau sebenarnya berlebih, Ini karena sebagian mahasiswa belum mampu membedakan kebutuhan mana yang paling diutamakan bagi mereka, terlebih mahasiswa yang baru pertama kali merasakan tinggal jauh dari orang tua mereka.
Bagi anda mahasiswa yang merasa kesulitan dalam mengelola uang bulanan anda, berikut kami akan berikan beberapa tips :





1. Klasifikasi kebutuhan-kebutuhan anda.

Dalam tahap ini anda harus mencoba mengklasifikasikan mana yang menjadi kebutuhan primer dan mana yang menjadi kebutuhan sekunder. Dimulai dari yang terpenting dulu, yaitu biaya makan dan minum, biaya transportasi, biaya keperluan sehari-hari (odol,sabun,susu,kopi,air,galon), biaya rekening listrik dan air, dan biaya lainnya ( beli buku, hang out ). Poin pertama ini tujuannnya adalah agar dapat mengetahui dari biaya apa saja yang sudah kamu klasifikasikan, mana yang sebaiknya dikurangi dan mana sebaiknya yang ditingkatkan

2. Buat catatan akuntansi aktivitas uang kas kamu

Catatan akuntansi yang sederhana, cukup mencatat apa saja biaya yang sudah dikeluarkan. mungkin kerabat dekat datang mengunjungi, siapa tahu anda akan diberikan uang saku. Dengan dicatat ini juga akan memberikan nilai tambah, sehingga akan jelas keluar masuknya uang anda.

3. Menyisihkan uang bulanan kamu untuk ditabung

Sebaiknya anda harus menyisihkan uang anda untuk ditabung. Ini gunanya apabila disaat-saat kritis anda masih memiliki tabungan.


4. Tidak ada salahnya anda mencari peluang bisnis
Agar anda memiliki uang simpanan sehingga anda tidak terlalu memikirkan mengenai finansial bulanan anda, ada baiknya anda bekerja sampingan, seperti menjalankan bisnis pulsa, bisnis konveksi, maupun bisinis halal lainnya yang bisa memberikan tambahan finansial bulanan anda.

Kemudian empat poin yang sebaiknya jangan anda lakukan agar anda dapat berhemat adalah :

1. jangan terlalu boros

Harus ingat tujuan anda belajar dan kuliah untuk apa, jangan terlalu menghambur-hamburkan uang secara berlebihan.

2. jangan mengesampingkan kuliah

Kalau anda mengesampingkan kuliah dan memprioritaskan yang tidak penting, ini akan memicu untuk menghabiskan uang kas perbulan ke biaya yang seharusnya tidak dikeluarkan terlalu berlebihan.


3. jangan berhutang

Sangat tidak baik kalau sampai berhutang. Apalagi setelah berhutang anda telat membayar hutang. Tentunya ini akan menambah beban pikiran sehingga akan menyebabkan konsentrasi belajar terganggu dan merusak image baik anda di mata teman-teman.

4. sebaiknya jangan pacaran dulu ketika masih kuliah
Kenapa nih tidak boleh pacaran ? alasannya, terkadang apabila anda sudah ada pacar, anda akan begitu terlena dengan dia. Terutama bagi para lelaki, anda akan mengajak dia entah kemana, tanpa memikirkan lagi uang yang ada di dompet. Sehingga tanpa disadari uang bulanan habis hanya karena kekasih yang sementara.




Kamis, 31 Mei 2012

LOGO TERBARU KOPERASI INDONESIA


Logo Atau Lambang Koperasi Baru 
Arti Gambar dan Penjelasan Lambang Koperasi Baru:
  1. Lambang Koperasi Indonesia dalam bentuk gambar bunga yang memberi kesan akan perkembangan dan kemajuan terhadap perkoperasian di Indonesia, mengandung makna bahwa Koperasi Indonesia harus selalu berkembang, cemerlang, berwawasan, variatif, inovatif sekaligus produktif dalam kegiatannya serta berwawasan dan berorientasi pada keunggulan dan teknologi;
  2. Lambang Koperasi Indonesia dalam bentuk gambar 4 (empat) sudut pandang melambangkan arah mata angin yang mempunyai maksud Koperasi Indonesia:
    • Sebagai gerakan koperasi di Indonesia untuk menyalurkan aspirasi;
    • Sebagai dasar perekonomian masional yang bersifat kerakyatan;
    • Sebagai penjunjung tinggi prinsip nilai kebersamaan, kemandirian,keadilan dan demokrasi;
    • Selalu menuju pada keunggulan dalam persaingan global.
  3. Lambang Koperasi Indonesia dalam bentuk Teks Koperasi Indonesia memberi kesan dinamis modern, menyiratkan kemajuan untuk terus berkembang serta mengikuti kemajuan jaman yang bercermin pada perekonomian yang bersemangat tinggi, teks Koperasi Indonesia yang berkesinambungan sejajar rapi mengandung makna adanya ikatan yang kuat, baik didalam lingkungan internal Koperasi Indonesia maupun antara Koperasi Indonesia dan para anggotanya;
  4. Lambang Koperasi Indonesia yang berwarna Pastel memberi kesan kalem sekaligus berwibawa, selain Koperasi Indonesia bergerak pada sektor perekonomian, warna pastel melambangkan adanya suatu keinginan, ketabahan, kemauan dan kemajuan serta mempunyai kepribadian yang kuat akan suatu hal terhadap peningkatan rasa bangga dan percaya diri yang tinggi terhadap pelaku ekonomi lainnya;
  5. Lambang Koperasi Indonesia dapat digunakan pada papan nama kantor, pataka, umbul-umbul, atribut yang terdiri dari pin, tanda pengenal pegawai dan emblem untuk seluruh kegiatan ketatalaksanaan administratif oleh Gerakan Koperasi di Seluruh Indonesia;
  6. Lambang Koperasi Indonesia menggambarkan falsafah hidup berkoperasi yang memuat :
    • Tulisan : Koperasi Indonesia yang merupakan identitas lambang;
    • Gambar : 4 (empat) kuncup bunga yang saling bertaut dihubungkan bentuk sebuah lingkaran yang menghubungkan satu kuncup dengan kuncup lainnya, menggambarkan seluruh pemangku kepentingan saling bekerja sama secara terpadu dan berkoordinasi secara harmonis dalam membangun Koperasi Indonesia;
    • Tata Warna :
      1. Warna hijau muda dengan kode warna C:10,M:3,Y:22,K:9;
      2. Warna hijau tua dengan kode warna C:20,M:0,Y:30,K:25;
      3. Warna merah tua dengan kode warna C:5,M:56,Y:76,K:21;
      4. Perbandingan skala 1 : 20.